Suhu di kamar berangsur-angsur mulai tinggi, berbeda dengan malam
kemarin yang bersuhu rendah. Penerangan di kamar terasa sangat terang. Aku
mulai membuka selimutku, mencoba mengumpulkan nyawa untuk membuka mata dan
mulai bangkit berdiri. Menggaruk pipi yang tidak gatal dan berjalan untuk
mengambil handuk yang tergantung di jemuran depan, kulihat jam yang menunjukkan
pukul 9 dan akupun mulai menuju kamar mandi.
Mengguyurkan air yang dingin itu ke tubuh, ya memakai air dingin karena
tidak memiliki air hangat. Memberi shampoo dan memijat kepalaku dengan pelan,
memberi sabun dan menggosok gigi. Selesai mandi, melilitkan handuk di tubuhku
dan kembali ke kamar untuk berpakaian.
Tak berapa lama, akupun mulai selesai berpakaian waktu itu masih
berpakaian rumah dan siap menyantap makan pagiku, tepung panjang yang di rebus
dengan bumbu yang renyah. Aku makan dengan lahapnya bersama orangtua dan
adikku, Bagus. Sebenarnya aku mempunyai seorang adik laki-laki, tetapi dia
sudah berangkat sekolah pagi sekali. Entah secepat apa aku makan, tetapi aku
lebih cepat daripada Bagus. Itu sudah pasti, porsi makanku lebih sedikit
dibandingkan Bagus.
Selesai makan, aku mulai memeriksa kembali barang bawaan yang akan
dibawa ke Bandungan bersamaku nanti. Perlengkapan pakaian dan mandi? Selesai.
Cemilan dan obat-obat yang perlu? Lengkap. Sandal dan plastik? Ada. Oke, aku siap
berangkat menuju Bandungan untuk retret.
Kembali ke kamarku untuk berganti pakaian yang layak dan sepantasnya.
Selesai berganti pakaian, aku menunggu Bagus. Ayah dan Ibu juga aku tunggu
karena mereka juga akan ikut mengantarku ke sekolah, lagipula Vere, adikku yang
paling kecil pulang sekolah pukul 11.30, sedangkan aku harus sudah ada di
sekolah pukul 11.
Semua telah selesai, aku, Bagus dan Ibu telah duduk di tempat duduk
masing-masing, sedangkan Ayah yang mengendarai mobilnya. Ku lihat jam tanganku,
menunjukkan pukul 10.15. Ayah mempercepat
kecepatan mobilnya. Alhasil, sampai sekolah pukul 10.30. Wah, hanya 15 menit
ternyata. Cepat juga.
Sesampainya di sekolah, terlihat dari belakang masih sepi. Teramat
sangat sepi. Aku mencoba masuk ke dalam sekolah untuk melihat keadaan di sekitar.
Mulai berjalan dan memasuki gerbang belakang sekolah. Ternyata tak sepi jika
sudah di dalam. Aku melihat guru-guru yang sedang mempersiapkan kertas untuk
ditempelkan di depan-belakang bus itu yang bertuliskan “bus 1” sampai “bus 5”.
Para guru pendamping menempelkan kertas yang bertuliskan nomor bus itu,
sedangkan supir dari masing-masing bus
itu diajak makan dan minum terlebih dahulu.
Aku keluar dari sekolah melalui gerbang belakang. Aku mulai duduk. Ayah
mengeluarkan koperku dan koper Bagus dari bagasi. Menunggu para guru pendamping
yang telah selesai menempelkan kertas yang bertuliskan nomor dari bus itu, ku
lihat bus 2 berada di posisi ke 2 setelah bus 1. Aku mulai berjalan menuju bus
2, mendorong koperku dan menenteng plastik yang berisi air mineral dan beberapa
potongan roti bakar untuk cemilan di bus nanti. Supir bus 2 mungkin telah
selesai makan dan minum, lalu ia mulai menyapa dan mengangkat koperku ke bagasi
di sebelah kiri dari bus itu. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih dan
mengambil jaket dan masih menenteng plastik itu. Menaiki bus itu dan memilih
tempat duduk yang berada di tengah. Aku meninggalkan jaket dan plastikku di
tempat duduk yang sudah aku “tandai”. Setelah meninggalkan barang-barang, aku
turun dari bus, aku melihat Chika yang baru turun dari mobilnya. Cepat-cepat
aku berlari ke arahnya dan memberitahu
tentang posisi bus 2. Chika yang kerap kali aku panggil dengan sebutan “emak”
itu membawa galon air mineral 6 liter. Oke, aku mengantarkannya menuju bus 2,
kembali lagi supir bus itu membantu emak menaruh kopernya di bagasi bagian
samping. Dan memberitahu tempat duduk yang telah kutandai itu. Emak tidak
menaruh galonnya ke bagasi. Ia menentengnya dan menempatkan galon itu di tempat
duduk yang telah kami sepakati, hahaha. Maksudnya agar tidak diambil oleh orang
lain. Setelah itu, kami turun dari bus dan duduk di tempat duduk yang terbuat
dari semen yang ada di dekat gerbang belakang sekolah, sambil menunggu
teman-teman lain yang belum datang. Ayah dan Ibuku pamit ingin menjemput Vere
yang ada di SMP yang sebentar lagi akan pulang. Sebelum pergi ke SMP, aku dan
Bagus salaman sama Ayah dan Ibu. Melambaikan tangan dan pesan Ibu adalah
hati-hati dan jangan lupa berdoa. Lalu mobil yang Ayah kendarai melaju cepat
untuk menjemput Vere.
Aku kembali duduk bersama Chika ditemani Mamanya. Kami bersanda-gurau.
Tiba-tiba Mila datang, pecahlah kehebohan kita. Aku melihat jam tangan sudah
menunjukkan pukul 11.30, aku segera masuk ke bus. Bagus tidak 1 bus denganku,
dia berada di bus 1. Lalu, aku melihat barang-barangku hilang di bangku tengah
yang telah ku tandai sebelumnya. Tapi bangku yang sudah aku tandai itu ada tas
orang lain, lalu dimana tas ku, pikirku. Baru saja aku masuk ke dalam bus,
sudah ada orang yang membuatku marah, dia tidak mengetahui kalau tadi ada tas
di sana ya? Dea dan Octa, teman sekelasku bercerita kalau tadi ada seorang
perempuan yang memindahkannya. Alhasil, nanti perempuan itu pindah ke bangku
belakang. Jaket dan plastikku di taruhnya di bangku depan. Aku mengambilnya.
Hal yang sama dilakukan emak, ia mengambil galonnya. Entahlah, tapi kalau
perempuan itu menginginkan bangku itu, tak harus merebutnya secara diam-diam
kan? Belum sampai di tempat retret sudah diuji, pelajaran yang dapat diambil
adalah sabar dalam menghadapi masalah.
Tak lama kemudian, bus itupun jalan. Semoga bisa sampai ke tempat
tujuan dengan selamat, pikirku. Bus itu berjalan pelan lalu agak cepat. Di
dalam bus diputar lagu-lagu lokal. Aku mengenali lagu-lagi itu, tapi emak
merasa asing dengan lagu-lagu itu. Aku yang memperkenalkan lagu-lagu itu kepada
emak. Ya, setelah itu aku dan emak bercerita mengenai anime dan hal-hal lucu
lainnya. Perjalanan terasa sangat cepat, tiba-tiba saja sudah di Bandungan.
Bus yang seharusnya ke KSED malah kesasar, melewati Griya Asisi,
padahal KSED harusnya sebelum Griya Asisi, jadi bus itu harus balik lagi.
Lanjut ke bus 2, masuk ke gang Griya Asisi, naiknya menanjak lalu masuk rumah
tempat retret melewati pintu gerbang.
Bus itu berhenti, semua turun. Setelah turun dari bus itu, semua meregangkan
badan masing-masing. Tak terasa sudah sampai, semua pasti lelah duduk di bus
terus. Akupun begitu. Supir bus membuka garasi dan menurunkan koper anak-anak
satu per satu. Aku mulai mengambil koperku sambil membawa jaket dan plastikku yang
ku bawa daritadi.
Koper telah ku ambil, aku mencari tempat untuk menaruh koperku sementara.
Melihat ke kanan dan ke kiri, menunggu bus lain datang ke Griya Asisi. Tak
lama, bus 1 dan 3 datang. Teman-teman mulai turun. Bus 3 telat karena dia
menampung anak-anak yang di KSED, jadi sebagian turun di KSED, sebagian lagi
turun di Griya Asisi. Anak-anak retret yang di Griya Asisi sudah terkumpul dan
kami dibagikan makanan. Sampai di Griya Asisi kira-kira pukul 13.05. Dan makan
siangpun telah tiba. Aku dan emak mencari tempat duduk agar makannya nyaman.
Makananpun dibagikan, aku tak sabar menunggu kotak itu. Setelah mendapat makan
siang, memegang kotak itu dan perlahan ku buka kotak itu. Ada nasi, sayur, ayam
dan bakso. Tak sabar aku ingin menyantapnya. Sebelum itu, aku berdoa. Setelah itu,
mengamil sendok dan makanannya serta menyuapkannya ke dalam mulutku. Apapun makanannya,
jika sudah lapar dan mengucap syukur pasti nikmat. Ku nikmati setiap
lahapannya.
Tak terasa makanan yang ada di kotak itu telah habis. Ku membuang kotak
yang telah kosong itu di tempat sampah. Setelah itu duduk kembali sambil
menunggu teman-teman yang belum selesai makan. Menunggu dengan bercerita dengan
teman-teman. Wah, teman yang belum pernah aku ajak untuk berbicang bisa aku
ajak untuk berbincang. Ternyata seru bisa bergaul dengan semua orang.
Waktu berjalan terasa sangat cepat, aku melihat jam tanganku. Ternyata telah
menunjukkan pukul 13.25, guru pembimbing yaitu Bu Agustin dan Pak Rudi memberi
informasi terlebih dahulu mengenai kamar. Teman sekamar boleh berganti asal
memberi tahukannya kepada guru pendamping. Aku tidak ingin ganti teman sekamar
karena aku telah sekamar dengan emak. Ya, ini sebuah kebetulan atau keberuntungan?
Sebelum masuk ke kamar, handphone harus dititipkan terlebih dahulu kepada Bu
Agustin, aku tak membawa handphone dikarenakan handphone ku rusak, tetapi emak
membawa handphone, lalu ia menitipkannya kepada Bu Agustin dan diberi nama di
secarik kertas kecil dan menempelkannya dengan selotip bening. Tak ada handphone, tak bisa berkomunikasi dan pastinya aku akan merindukan kakak. Lalu emak menaruh handphonenya
di sebuah kotak yang nantinya akan dititipkan selama 4 hari di kamar Bu Agustin,
mungkin.
Emak telah menitipkan handphonenya itu kepada Bu Agustin dan pencarian
kamarpun dimulai! Hahaha. Mulai mencari-cari kamar yang telah diatur oleh guru
pembimbing. Rumah tempat retret luas juga. Kamar 214, agak susah di cari,
ternyata terselip. Letak kamarnya di tengah lantai 2 dan 3. Bingungkan? Tapi memang
itu adanya. Tetanggaku kamar 216 ditempati oleh Naris alias Nduty dan Laras
yang biasa aku panggil “abang”. Mereka berada di sebelah kiri kamarku,
sedangkan kamar sebelah kananku kosong. Mungkin belum ada yang menempatinya. Ku
lihat Mila belum mendapat teman sekamar, dan akhirnya aku menemukan Dea di
ruang makan, dia juga belum mendapatkan teman katanya. Nah, kebetulan sekali. Akhirnya
ia menuju kamar di samping kanan kamarku. Aku mulai bingung, saat aku memuka
kamar itu, ternyata sudah di kunci, padahal tadi belum ada orang. Aku mencoba
mengetuk pintu itu. Beberapa kali aku ketuk pintu dengan pelan, belum terdengar
jawaban. Aku mencoba mengetuk pintu lebih keras dari yang tadi, akhirnya ada
sahutan dari dalam.
“Ya, tunggu sebentar” ku dengar suara yang agak berat dari dalam kamar.
Aku mulai berpikir, ini perempuan tangguh pasti. Hahaha.
Ia mulai membuka kunci pintu itu dan tiba-tiba ku melihat sesosok pria
yang berkulit gelap muncul di depan pintu kamar itu.
“Loh?” aku mulai kaget.
“Ada apa?” jawabnya.
“Ini kan kamar cewek, kenapa kamu ada di sini? Memang kamu tidak tau
kalau ini gang kamar cewek?”
“Tau sih, ya.. Memang itu tujuannya.”
“Astaga, ayo pindah sana!”
“Hah? Pindah lagi? Aku dan Satria baru aja pindah kamar!”
“Lah, siapa suruh netap di kamar cewek?”
Emak, Mila, dan Dea tertawa karena kedua pria itu harus pindah kamar
lagi. Mereka sudah pindah kamar yang kedua kalinya. Ya, aku agak bingung,
sekaligus agak aneh jika harus bersebelahan dengan kamar yang isinya adalah pria.
Walaupun bisa dekat dengan pria, itupun hanya adik dan Ayahku. Dan alhasil,
mereka pindah kamar, jadi di lantai 3. Ahahaha. Ya, tentu saja gang jamar para
lelaki.
Masalah sudah selesai, aku – emak dan Mila - Dea kembali ke kamar untuk
menyusun barang-barang bawaan. Selesai aku dan emak menyusun barang-barang
bawaan, kami bersiap-siap untuk mandi. Ku lihat jam tangan menunjukkan pukul
14.30.
Aku mulai mempersiapkan peralatan mandi dan pakaianku lalu perlahan
menuju kamar mandi. Untuk apa mandi lebih awal? Supaya lebih bersih dan lebih
lama mandinya. Selesai mandi kira-kira pukul 15.00. Mulai sisiran lalu aku
melihat emak sedang asik menggambar-gambar dan aku memperhatikan. Aku mengambil
roti bakar yang berada di plastik itu dan menawarkannya kepada emak yang sedang
asik menggambar. Kita makan roti itu bersama-sama. Ya, habis pastinya.
Roti bakar telah habis, waktu menunjukkan pukul 16.00 sore. Sekarang
waktunya snack sore. Aku dan emak mulai turun ke bawah menuju meja makan.
Entahlah, tapi aku belum kenyang saat makan roti bakar tadi. Aku tidak serakah,
mengambil snack itu haya 1 saja, kasihan yang lain kalau tidak kebagian
nantinya. Lalu menuju meja makan dengan perlahan. Yang duduk di sampingku
pastilah emak. Menikmati snack itu. Tapi entah mengapa, rasanya snack itu cepat
sekali habisnya. Tak apa, hanya snack, pikirku. Aku melihat suasana masih ada
pengelompokan diantara teman-teman yang lainnya. Maklumlah, baru hari pertama,
pasti yang lain belum mau berbaur.
Snacknya telah habis, pukul 16.30, anak-anak dikumpulkan di aula. Ibu
Agustin mengadakan briefing dan persiapan untuk misa nanti dengan memilih Adwin
sebagai ketua, Ribka sebagai seksi ibadat, dan Arindra sebagai bellboy. Ribka
sebagai seksi ibadah yang memilih siapa saja yang bertugas untuk doa makan,
pemazmur, pembacaan alkitab, dan lain sebagainya. Arindra sebagai bellboy
bertugas untuk membangunkan teman-teman yang belum bangun nantinya dan
memberitahu jika acara akan segera mulai dengan lonceng yang telah disediakan
dari tempat retret itu. Lalu untuk jadwal acara, guru pembimbing tidak
mengetahuinya karena yang menyusun acaranya adalah Romo. Saat itu Romo belum
juga datang, jadi setelah briefing itu dari pukul 17.00 sampai 17.45 jadwalnya
adalah acara bebas.
Tapi saat mau kembali ke kamar, ada seorang pria yang berwibawa
bertanya kepada aku, emak, Nduty dan Laras.
“Maaf, guru pembimbingnya siapa ya?”
“Itu, yang di depan itu.” Kata Laras dan emak bersamaan.
“Yang di depan itu?” Ia mengulang kalimat yang telah dikatakan oleh
Laras dan emak.
“Iya, yang di depan itu.”
“Wah, saya kira mereka berdua adalah pembicara.”
Lepaslah sudah tertawa kami. Wah, pria ini melontarkan lelucon yang
lucu kepada kami. Lalu ia berpamitan dan menuju Bu Agustin dan Pak Rudi.
“Sepertinya dia Romo deh.” Laras
mulai berbicara, memecah keheningan.
“Iya, kayaknya. Soalnya yo aku pernah lihat saat dia di Gereja mana
gitu.” Lanjut emak.
“Tapi di mana ya? Aku lupa nih.”
“Iya, aku juga lupa, La.” Kata emak kepada Laras.
Oke, aku tak mengetahui apa-apa tentang pria itu. Apakah benar dia Romo
yang akan mengajar kita, pikirku. Sambil berbincang, sambil berjalan menuju
kamar. Laras dan Nduty menuju kamarku juga. Biasa, pasti mau nyemil.
“Gila, kang! Ini mau retret atau jualan? Kok cemilannya banyak banget?”
tanya Laras kepadaku.
“Iya, kita berdua ini tukang makan.” Emak melanjutkannya.
Ya, intinya di kamar, kita nyemil permen yang “kenyal” itu.
Waktu menujukkan pukul 17.45 dan tiba saatnya untuk misa pembukaan. Ya,
ternyata benar bahwa pria tadi adalah Romo pedamping kita yang ada di Griya
Asisi nanti. Misa pembukaan di mulai, dengan inti dari kotbah Romo itu adalah
jika kita menjadi dewasa kita harus memiliki 2 sifat. Dua sifat itu adalah
semangat dan siap sedia. Semangat untuk menyemangati diri sendiri dan siap
sedia dalam menghadapi pilihan hidup. Kita tahu bahwa hidup itu 50% senang dan
50% lagi sengsara. Jadi, kita diajarkan untuk memompa 50% senang menjadi lebih
dari 50%, sedangkan 50% sengsara itu diturunkan, sehingga hidup bisa lebih
bahagia.
Selesai misa, kami akan melanjutkannya dengan makan malam pada pukul
19.00 sampai 20.00. Tak terasa makan malam berlangsung dengan cepat dan masuk
pada sesi 1.
Pada sesi 1 ini, kita diajak berkumpul di ruang pertemuan. Romo
mengajak untuk berhitung dari 1 sampai 7. Kami berhitung dan aku mendapatkan
nomor 4. Kami semua totalnya 70. Jadi akan terbentuk 7 kelompok dengan
masing-masing anggota kelompok berjumlah 10 orang. Aku mendapat kelompok
bersama dengan Ellen, Laras, Ningrum, Tika, Ribka, Sandra, Aldo, Ivan Ricardo
atau biasa dipanggil Ong dan terakhir Joshua atau biasa dipanggil JK. Sepuluh
orang itu sudah termasuk aku di dalamnya. Lalu, perintah Romo adalah mengambil
bantal dari kamar masing-masing dan menjelaskan permainan bantal tersebut. Aku
mengira kita akan perang bantal, tapi bukan itu maksud Romo. Romo bilang coba
susun bantal itu setinggi mungkin tetapi harus menyentuh lantai. Kelompok kami
mulai menyusun rencana. Dari kelompokku itu, aku banyak tahu tentang nama
mereka, ya hanya “sekedar tahu” bukan “kenal”. Mungkin dari sini, kita akan
mengenal satu sama lain. Mencoba berunding dalam kelompok. Banyak rencana yang
kita coba, tetapi tetap saja gagal, bantalnya selalu jatuh. Kami tak akan
menyerah. Tetap berusaha supaya bantal itu bisa tinggi. Akhirnya kami menemukan
ide brilian. Rencananya adalah . . .
Gambar
Alhasil kita berhasil menyusun bantal itu. Entahlah, mungkin kelompok
kami tidak tinggi menyusun bantalnya, tapi dari sini kami belajar untuk saling
bekerjasama antara 1 dengan yang lainnya walau kita tak terlalu kenal dan
mencoba percaya pada orang lain. Setelah permainan susun bantal itu berakhir,
Romo memberikan kertas yang isinya tentang persahabatan. Menurut kami
persahabatan itu butuh pengorbanan berapa dan apa untungnya dengan skor 1-7.
Ya, isinya seperti angket begitu. Tiga lembar dan lebih dari 100 nomor,
semuanya menggunakan bahasa Inggris yang kosa katanya asing bagiku. Terakhir,
angket itu tidak selesai.
Sesi 1 berakhir, jam menunjukkan pukul 21.30. Waktunya untuk mengucap
syukur kepada Tuhan dengan memekakan alat indra kita. Mengucap syukur karena
telah diberi anggota tubuh yang lengkap sekaligus doa untuk tidur. Kegiatan
tersebut berlangsung sampai pukul 22.00.
Lebih dari pukul 10 malam, kami menuju kamar kami masing-masing. Tidak
semua kembali ke kamar, ada yang masih terjaga. Kalau aku dan emak langsung
saja ke kamar. Di kamar bukan langsung tidur, malah bercanda terlebih dahulu.
Tapi mata ini telah lelah dan badan ini capek sekali. Aku mencoba merelekskan
badan dan akhirnya tertidur juga.
Hari pertama akan segera terlewati, selamat tinggal
hari pertama....
NEXT >>>>>> DAY 2














