Blogger Widgets all about....: 2013

Jumat, 06 Desember 2013

This is my story #3

By Indah_chan di 20.34 0 komentar
Jika kamu mencintai seseorang, jangan sia-siakan mereka. Lindungi mereka dengan sekuat tenagamu sebelum kamu kehilangannya.

Waktu kita di dunia tidak akan lama, kan?
Kita tidak tahu kapan kita di panggil, kan?
  • Mungkin...

Di saat orang yang kalian cinta itu sedang terpuruk, tanyakan keadaan mereka.
Terkadang orang hanya ingin dimengerti tetapi tak ingin mengerti orang lain.
Apakah susah untuk mengerti orang lain?
  • Mungkin...

Apakah menurut kalian cemburu wajar?
Apakah sifat cemburu itu ada sisi positifnya?
  • Mungkin...

Kalian terlahir di dunia ini, pasti ada sebabnya bukan?
Tuhan mempunyai rencana yang indah bagi kalian, bukan?
  • Mungkin...

Di saat kondisimu tidak fit, apakah ada seseorang yang sangat memperhatikanmu?
Di saat keadaanmu sulit dan merasa semua orang menjauh darimu, adakah seseorang yang peduli terhadapmu?
  • Mungkin...
Apakah ada orang yang mencintai kita di dunia ini dengan cinta yang tulus?
Apakah kalian mencintai diri kalian sendiri?
  • Mungkin...


Sebenarnya... Apa yang aku inginkan?
Aku menginginkan orang yang aku cintai itu mengerti.. Mengerti keadaanku. Aku ingin dia memperhatikan dan melirikku, walau hanya sekali.
Sekarang sifatnya berubah.. Apa yang harus aku lakukan?

Tuhan, bisakah Kau membangkitkan orang yang telah tiada?
Aku ingin bercerita kepadanya, aku ingin menceritakan semuanya kepada dia.
Tidak, aku tidak menuntut agar orang yang aku cinta itu berubah sifatnya.
Aku ini wanita. Wanita mana yang tidak ingin di sayang?

Di saat dia kehilangan orang yang ia sayang, aku ingin selalu berada di sampingnya dan menghiburnya. Tetapi sepertinya dia menolak.
Aku ingin dicintai, tapi sepertinya dia tidak mencintaiku.

Ayo!! Buang semua pikiran negatifmu, Indah!!
>,<"
Semua pertanyaan di atas, ayo kita ubah menjadi " T E N T U ! "

Jumat, 22 November 2013

A Little Message for Brother in Heaven

By Indah_chan di 23.27 0 komentar
Tuhan.. Tuhan, bisakah Kau sampaikan pesan ini kepada kakak yang ada di surga? Aku ingin sekali berbicara dengannya. Aku ingin bercerita kepadanya tentang dunia ini. Aku ingin dia tau tentang duniaku sekarang.....

Tuhan, bisakah Kau menyampaikan pesanku kepadanya? Sekali ini saja.
Tuhan, apakah kau mendengarnya?
Pernyataan bahwa "Manusia itu kuat" pasti semua itu bohong, bukan?
Pernyataan bahwa "Manusia itu tangguh" juga bohong.

Jika aku diberi kesempatan untuk berbincang dengannya, aku akan menceritakan kebahagiaan kepada kakak bahwa aku benar-benar mencintai seseorang. Kenyataan kalau aku mencintainya tak bisa dirubah oleh siapapun. Aku ingin mencintai dia, tapi . . . . Kenyataan kalau ia masih mencintaiku sepertinya sudah hilang.

Tuhan, sampaikan pesan kepada kakak. Sampaikan pesan bahwa aku bahagia di sini. Jangan katakan bahwa aku sedang sakit, jangan katakan keadaanku yang sebenarnya kepada kakak. Katakan bahwa hubunganku dan orang yang aku cinta sekarang baik-baik saja. Katakanlah itu.

Kenyataan bahwa dunia itu pahit . . . Tolong jangan katakan kepadanya.
Hanya itu saja pesanku.
Sampai kapanpun, aku akan selalu bersama orang yang aku cinta di dunia ini.

Kakak, jika besok aku bertemu denganmu di Surga, izinkan aku untuk mencintai orang yang aku cinta di bumi selamanya.
Kak, apakah kau ingat tentang perkataanmu?
"Cinta pertama mengajarkan kita arti cinta, sedangkan cinta terakhir mengajarkan kita hidup."
Aku banyak belajar tentang kehidupan bersamanya, aku banyak belajar karena dia, aku berjuang untuknya, aku bersemangat karena dia.
Tapi . . . . . .
Ah, tak apa, kak. Orang yang aku cinta sepertinya tidak menginginkan kehadiranku lagi. Entah apa salahku. Dia tak ingin membagi dunianya kepadaku. Tak apa . . .
Bohong jika ku katakan kalau aku "kuat"
Bohong jika ku katakan kalau aku "terima dengan lapang dada"
Bohong jika ku katakan "aku tak membutuhkannya lagi"
Aku hanya berharap, kakak ingin melindungi dia di saat dia susah.
Mengapa tidak aku?
Karena orang yang ia percayai hanya kakak.
Terima kasih kakak, terima kasih orang yang aku cinta karena kalian telah menemaniku.
Aku akan menunggu orang yang aku cinta, kak.
Tapi harus janji kakak akan menemaninya di saat dia susah, okay?

-I N D A H-

Kamis, 21 November 2013

My Guardian Angel #1

By Indah_chan di 01.23 1 komentar
   Telah 2 bulan semenjak kepergian kak Ken. Kata kak Owl, aku tak perlu bersedih lama-lama karena kak Ken tak akan tenang jika aku terlalu memikirkannya. Aku berusaha keras untuk tidak memikirkan kak Ken berlarut-larut, tetapi apa yang terjadi? Aku tak bisa jika tak memikirkan kak Ken. Tapi yang paling terpuruk atas kepergian kak Ken adalah kak Owl. Bagaimanapun dia adalah sahabatnya dari kecil.
   Kak Owl selalu saja marah jika aku mengeluh tentang kak Ken, padahal aku tahu kalau kak Owl lebih terpuruk. Kak Owl menganggap hidupnya tak ada gunanya lagi. Aku memberitahu kepada kak Ken kalau hidupnya itu sangat berguna dan supaya ia semangat. Tapi kak Owl masih saja menolakku. Aku sempat berpikir kalau kak Owl itu dari awal memang tidak menyukai kehadiranku, maka dari itu sebisa mungkin aku mencoba menghindarinya. Habis aku takut sekali jika bermasalah dengannya. tapi di lain sisi aku tahu kalau kak Owl itu memberi perhatian kepadaku hanya saja caranya yang berbeda. Mungkin ia hanya memberi perhatian sedikit saja. Penilaian perhatian rentang 1 - 10, ia memberiku perhatian 0,0001 mungkin. Ahahaha~
   Kak Owl mengubah hidupku. Aku mencoba mengenal kak Owl lebih dekat semenjak kepergian kak Ken. "Jangan melihat buku hanya dari sampul luarnya saja" Mungkin itu yang dapat aku ambil dari pelajaran mengenal orang lebih dekat. Aku mencoba dekat dengan kak Owl, ternyata dia orangnya baik. Ia tampak sangat kesepian, aku selalu mencoba menghibur kak Owl, tetapi selalu saja ditanggapi dengan sikap "dingin" nya itu, aku sebenarnya rada-rada illfeel, tetapi tekadku yang ingin agar kak Owl tidak selalu terpuruk selalu ada di pikiranku. Ingin marah? Ya, tapi dengan marah akan menambah masalah. Aku membuang pikiran tentang kemarahanku itu. Aku ingin kak Owl tersenyum kembali. Kau tahu? Mengubah seseorang yang terpuruk menjadi tersenyum kembali itu tak mudah, apalagi semenjak ia kehilangan sahabatnya sendiri. Lalu apa yanng aku bisa lakukan untuk mengubahnya kembali?
Aku selalu berbincang-bincang dengannya, tetap saja masih dingin. Entahlah, mungkinkah dia menaruh dendam kepadaku? Aku berharap dia tidak dendam kepadaku.
   Hari terus berganti, aku selalu saja ingin membuat kak Owl tersenyum. Lalu ada apa denganku ini? Muncul perasaan? Aah! Itu tak mungkin, bagaimana bisa aku menyukai orang yang dinginnya kebangetan seperti dia?
Tetapi mengapa dia selalu dipikiranku dan selalu ingin membuat kak Owl tersenyum? Oh tidak!

Senin, 04 November 2013

Retret Day 2 - "What's your symbol?"

By Indah_chan di 16.51 0 komentar


Suhu yang sangat dingin menusuk sampai ke tulang. Aku tak terbiasa dengan suhu yang sangat rendah. Kain penghangat yang tadinya tersusun rapi di tempat tidur, kini tergunakan dengan baik. Suhu di Bandungan memang rendah, aku harus melipat kaki ku untuk membantu penghangatan yang lebih. Kemarin aku berpesan kepada emak untuk bangun pukul 4 pagi. Alarm jampun telah disediakan untuk membantu kita bangun.
Tapi, aku tidak mendengarkan kalau jam itu berbunyi. Aku asik sendiri untuk tidur, tetapi saat aku terbangun, aku melihat jam menunjukkan pukul 04.15. Lebih baik bangun daripada tidak sama sekali. Hahahaha. Saat aku bangun, emak bercerita kalau ternyata tadi dia membangunkanku tetapi aku tidak ada reaksi apa-apa. Berbagai cara sudah ia lakukan misalnya dengan mendekatkan jam agar bunyi dari alarm jam itu terdengar, lalu mencolek tanganku dan lain sebagainya sampai pada akhirnya aku terbangun dengan sendirinya.
“Kamu bagaimana sih, Nduty aja yang di kamar sebelah bisa bangun karena alarmnya terdengar sampai kamarnya, masa kamu ndak isa toh?”
“Hehe, maaf toh, mak.”
“Ya sudah.”
“Terus kita mau ngapain dulu, mak?”
“Mandi dong. Terus kita bangun jam 4 pagi ini mau ngapain?”
“I-iya juga sih.”
Akhirnya kita mulai mempersiapkan peralatan mandi, ember dan pakaian ganti yang dibalutkan oleh plastik sebagai pelindung agar tidak basah saat mandi nanti. Berjalan perlahan menuju kamar mandi. Aku telah mengetahui suhu di Bandungan sangat dingin, tetapi masih saja aku nekat untuk mengguyurkan air bak di kamar mandi itu. Sangat dingin memang, akhirnya menyerah. Lalu membuka keran shower air hangat dan diasukkan ke ember dengan ditambah sedikit air yang sangat dingin itu. Dan jadilah air hangat.
Selesai mandi, aku dan emak kembali ke kamar. Kita bingung ingin melakukan apa karena terlalu pagi. Teman-teman yang lain belum ada yang bangun. Sedangkan Nduty kembali tidur, katanya tadi terbangun karena jam alarmnya emak. Akhirnya kami hanya makan cemilan yang telah kami bawa, lalu kira-kira pukul 04.30 sudah ada teman yang duduk di ruang makan. Aku dan emak juga ke meja makan. Mereka tak lama di ruang makan, mereka mulai kembali ke kamar, mungkin tadi hanya sekedar minum dan memakan cemilan mereka. Lama-kelamaan, teman-teman sudah bangun. Acara selanjutnya pukul 06.00 adalah misa pagi.
Misa pagi dipimpin oleh Romo dengan inti yang dapat aku ambil adalah semakin kita dewasa, pasti semakin banyak yang dituntut. Jadi kita harus menyerahkan semua yang kita miliki untuk melakukan hal yang benar. Misalnya menggunakan alat-alat indra dengan baik. Mata untuk melihat hal-hal yang benar, lidah untuk berbicara kebenaran tentang Allah dan lainnya.
Misa akhirnya selesai, pukul 07.00, kami mulai sarapan. Sarapan pertama di Griya Asisi. Teman-teman sudah amulai dekat antara satu dengan yang lain. Dengan sarapan, Romo memberi kami tugas untuk memikirkan simbol dari diri kami masing-masing. Simbol itu harus benda mati. Aku berusaha keras, memikirkan simbol benda mati apa yang sesuai denganku. Sampai akhirnya aku berpikir tentang imajinasi, gambar, lukisan dan kanvas. Awalnya aku hanya memikirkan hobiku yaitu menggambar, dari menggambar, aku memiliki apa saja. Aku mulai berpikir dan terus berpikir. Akhirnya aku menemukan simbol dari diriku sendiri. Simbol benda mati yang mencerminkan diriku adalah pensil warna. Mengapa bisa pensil warna? Pensil warna itu berwarna-warni, bisa mewarnai kehidupan seseorang dengan warna-warna tertentu. Tetapi pensil warna sebenarnya rapuh jika tidak ada pelindung kayunya. Sama seperti aku yang sebenarnya kuat di luar, tapi rapuh di dalam. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui kalau aku itu orangnya seperti itu. Setelah memikirkan simbol benda mati tadi, aku harus menuliskannya di kertas yang telah diberikan Romo. Tak terasa waktu sarapanpun telah usai, pukul 08.00 kami kembali ke aula untuk memulai sesi 2, bercerita tentang simbol yang telah kami pikirkan. Sharing kepada teman-teman kelompok yang telah ditentukan. Ada yang memilih gelas, air, kursi, jaket, sepatu, bantal, lilin, partitur piano, dan baju. Mereka menjelaskan mengapa mereka bisa memilih simbol itu dan apa kelebihan maupun kekurangannya. Setelah setiap anggota menceritakan simbol mereka, Romo menyuruh kami untuk kembali ke tempat duduk masing-masing. Romo akan menjelaskan tentang Enneagram.
Enneagram berasal dari 2 kata, yaitu Ennea yang berarti sembilan dan graph berarti tulisan. Jadi, Enneagram berarti 9 pola pribadi manusia. Enneagram sendiri merupakan tradisi guru SUFI ( Islam ). Pada tahun 1870 dikembangkan lagi oleh Ivanowich Gurdjieff yang belajar secara lisan. Kemudian tahun 1920, Enneagram diperkenalkan di Eropa. Tujuan Enneagram sendiri adalah untuk menemukan diri sendiri dan membantu memahami orang lain. Enneagram menunjukkan anugerah dan sisi gelap untuk mencapai kebebasan, perubahan, pertobatan. Enneagram juga penunjuk bagian gelap dan seharusnya jika kita telah mengenali, kita harus berani membuka topeng. Untuk itu diperlukan : self-observation ( refleksi dan mawas diri ), self-remembering ( mengingat ), dan self-understanding ( memahami ). Lalu ada 9 binatang yang menjadi pusat Enneagram. Tiga diantaranya telah dijelaskan oleh Romo. Ada semut, kucing dan elang.
Romo telah menjelaskan sedikit tetang Enneagram, tetapi waktu sesi 2 hanya sampai pada pukul  10.15, lewat dari jam itu, waktunya snack pagi. Seperti biasa, hubungan pertemanan kami sudah mulai dekat. Mulai mengambil snack dan duduk di tempat yag telah disediakan.
Entah mengapa waktu makan terasa sangat cepat sekali hingga kami kembali melanjutkan sesi yang ke 3. Dalam sesi ke 3 ini, kembali melanjutkan tentang Enneagram. Mengenali lebih jauh sifat-sifat yang mendasari orang yang memilih kuda, burung hantu, kelinci, kera, harimau, dan terakhir kerbau. Dari semua yang telah Romo jelaskan, ternyata aku lebih condong ke sifat Elang.
Elang merupakan sang motivator, inspirator, ambisius, percaya diri,. Sifatnya ekstrovert ( terbuka ). Ciri-ciri yang dimiliki elang adalah sangat prihatin tentang keberhasilan; pribadi ambisius menjadi pemenang nomor 1; mencari sukses dan pujian; penuh percaya diri; pribadi yang menarik, anggun, ceria; luwes dan dikagumi; organisator yang baik, penuh perhitungan, efisien; kurang peka akan perasaan orang lain, karena sibuk dengan tugas dan hasil; pandai menyembunyikan perasaannya karena ingin tampak baik/ hebat; dapat memandang rendah/ mengabaikan orang lain; pandai menangkap harapan orang lain; pandai menyesuaikan diri; pandai mempromosikan diri, tukang “jual jamu”; karir menanjak, punya kharisma, banyak bakat; suka pamer, angkuh; prihatin akan penilaian orang terhadapnya; sukar ambil waktu untuk rileks; membuat rencana ingin tujuan jelas. Masa kecil dari Elang ini dibiasakan mempunyai harga diri yag tinggi, dan selalu mendapat perhatian. Yang dapat dibanggakan dari elang adalah “I’m Successful!”. Tokoh yang sifatnya sama adalah Yusuf (PL), John Paul II, Antoni de Mello. Cara bicara dari elang itu penuh semangat, membual, meyakinkan, mengesankan. Bantuan : jangan memberi kesan lebih bodoh, lamban; jangan membual, menipu, memanfaatkan orang lain, jangan manipulasi; jangan bersikap seperti yang diharapkan orang lain; dukung dan teguhkanlah orang lain; humor yang tinggi; pakai bakat demi kebaikan kelompok; jangan membandingkan. Setelah mengetahui Enneagram dari diri kita, Romo memberikan tugas kelompok. Tugasnya adalah mempersatukan simbol-simol yang diceritakan oleh setiap anggota kelompok dan disusun sebagai alat peraga lalu dipersentasikan.
Sesi ke 3 telah selesai, pukul 12.30 sampai pukul 13.30 waktunya makan siang. Entahlah, tapi perut ini kenyang sekali rasanya. Di tempat retret makannya banyak sekali, ini namanya menambah gizi. Hahaha. Setelah makan siang, acara bebas. Tetapi acara bebas, tidak bisa bebas. Aku dan kelompokku harus berdiskusi tentang alat peraga yang akan dipersentasikan dengan kumpulan simbol benda mati dari teman-teman sekelompok. Berkumpul, membahas bersama. Akhirnya kita menamukan suatu bentuk. Dan siap dipersentasikan nantinya. Waktu masih tersisa banyak. Aku menemui emak. Sebelum bertemu dengan emak, Dhita mengajakku untuk jalan-jalan. Aku mengiyakan ajakannya dan aku mengajak emak yang ternyata berada di kamar sedang berusaha untuk tidur siang, saat ku ajak jalan-jala,. emak juga mau. Tap setelah jalan-jalan, alhasil kita hanya jalan-jalan di gang Griya Asisi untuk mencari dinginnya udara di Bandungan, lalu setelah itu balik lagi ke Griya Asisi, melihat taman belakang yang dimiliki Griya Asisi. Setelah agak lelah, aku dan emak mulai masuk kamar, mencoba untuk tidur tetapi tidak bisa karena Mila tiba-tiba datang. Rencananya aku mandi pukul 15.30, sedangkan Mila telah mandi. Mila ingin kembali ke kamar, tetapi tdak ada temannya, kebetulan waktu itu Dea sedang tidak berada di kamar, ia sedang jalan-jalan ke pasar. Jadi Mila bermain ke kamarku. Dan aku serta emak ingin mandi. Kata emak, dia membaca-baca buku yang emak bawa, sedangkan aku dan emak mandi.
Perlengkapan mandi dan pakaian telah di bawa semua. Aku kira sudah lengkap, oke, berangkat untuk mandi. Aku baru saja ingin sabunan, emak telah menggedor pintuku. Aku berteriak dari dalam kamar mandi dan bertanya mengapa emak menggedor pintuku. Ternyata aku melupakan sesuatu hal yang penting. Handuk milikku, lupa aku bawa. Untung emak membawakannya untukku. Aku mengucapkan terima kasih kepada emak. Setelah itu, aku cepat-cepat untuk mandi.
Selesai mandi, tak terasa sudah snack sore. Snack sore pukul 16.30 dan selesai snack, dilanjutkan sesi ke 4. Sesi ke 4 ini akan ada persentasi dari simbol benda mati yang disusun sedemikian rupa. Kelompok kami sudah berusaha keras agar menjadi alat peraga yang cukup menarik.
Semua kelompok mempersentasikan dengan menarik. Dan tiba gilirannya kelompokku. Kelompok 4 mempertunjukan yang menyerupai manusia yang sedang membuat partitur piano dengan pensil warna ditemani secangkir air bening dan lilin di sampingnya. Maksud dari kelompok 4 membuat itu karena semuanya saling keterkaitan. Jadi, simbol itu bisa saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Seseorang akan lebih baik bekerja sama antara 1 dengan yang lainnya. Itulah maksud dari peragaan kelompokku. Setelah semua persentasi selesai, Romo melanjutkannya dengan mempersentasikan tentang  7 langkah adaptasi  dan persiapan menghadapi masa depan. Apa saja langkah-langkanya? Yang wajib kita miliki adalah keyakinan. Yakin akan : orangtua adalah guru dan mentor terutama; belajar merupakan proses seumur hidup; belajar merupakan proses perluasan hidup; fokus pada kemampuan berkomunikasi; berpikir global, bertindaklah lokal; dengan bekerja keras, kamu akan belajar dan berkembang di banyak area; jadilah pembelajar. Itulah persentasi yang disampaikan oleh Romo di aula kepada kami di sesi ke 4,
Sesi ke 4 selesai pada pukul 18.30 yang akan dilanjutkan dengan makan malam sampai pada pukul 19.30. Selesai makan malam, akan melanjutkan sesi ke 5. Sesi ke 5 ini akan dilaksanakan di halaman depan. Sebelum ke halaman depan, aku mengabil jaketku. Hal yang sama juga dilakukan oleh teman-teman agar dirinya tetap hangat.
Kami keluar ke halaman depan untuk melanjutkan sesi, di sesi ini dibagi menjadi 2 kelompok besar. Dengan cara menghitung lalu Romo nya membagi  nomor sekian sampai sekian ke kelompok A dan sekian sampai sekian ke kelompok B. Kelompokku sangat ramai sekali, tetapi seru. Di sini kami memulai permainan, Romo menyuruh kelompok A dan kelompok B untuk membuat lingkaran. Kami akan melakukan 3 permainan. Permainan 1 disuruh untuk membuat lingkaran , lalu ada 1 teman yang tangannya dipegang oleh Romo dan diajak berputar-putar sehingga tidak membentuk lingkaran lagi. Setelah diacak seperti itu, Romo menyuruh kami untyk mengembalikan ke bentuk semula. Di permainan 1, kami tidak dapat menang karena sulit sekali. Yang memenangkan permainan ini adalah kelompok B, sedangkan aku masuk kelompok A. Dilanjutkan ke permainan ke 2, setiap kelompok disuruh merapat ke tengah, Romo menyuruh kami untuk memegang tangan kiri bertemu dengan tangan kanan teman. Lalu dari sana, kita harus membentuk lingkaran. Di permainan ini kita berhasil membuat lingkaran, seharusnya hanya 1 lingkaran, tetapi kami terbagi menjadi 2 lingkaran, di permainan ini kami kalah lagi. Permainan ke 3 dimulai, kami di suruh merapat dan membentuk lingkaran. Di sini kita disuru duduk di paha teman, jadi saling menopang dan disuruh untuk berbaring di badan teman itu. Awalnya sangat susah, kelompokku sampai terjatuh. Tapi pada akhirnya, kami menang. Kami bisa menyelesaikan permainan ini dengan sangat mulus. Ternyata menopang teman tidaklah susah. Kami mulai bergembra. Ternyata kami bisa bekerjasama. Setelah ketiga permainan telah selesai, Romo menyuruh kami membuat lingkaran besar dan disuruh duduk bersilang. Romo akan memberikan 8 gerakan untuk menyanyikan lagu “KasihNya seperi sungai” yang gerakannya makin lama makin cepat.
Lalu dari sini yang dapat kita ambil adalah bekerjasama untuk mencapai tujuan kita.
Setelah kegiatan itu, tak lupa Romo berdoa malam sebelum tidur yang akan dipimpin bergantian oleh teman-teman yang telah ditunjuk sebelumnya. Setelah selesai, kami kembali ke rumah retret. Sedangkan aku langsung kembali ke kamar untuk tidur. Sepertinya aku tidur dengan lelap sekali hari ini. Badanku lelah. Selamat tinggal hari kedua.

Sabtu, 02 November 2013

Kata orang sih....

By Indah_chan di 02.07 0 komentar
1. Telapak tangan yang berkeringat adalah tanda bahwa jantungnya bermasalah
 Kurang lebih waktu aku kelas 8SMP. Saat itu ada teman yang melihat bahwa telapak tanganku berkeringat. Kata dia, aku kena penyakit jantung atau jantungku lemah. Padahal aku merasa biasa saja. Buktinya saat penilaian lari jarak jauh, aku bisa menang melawan cewek-cewek yang lainnya. Itu berarti jantungku tidak lemah, benar kan?
Aku penasaran dengan informasi yang diberikan temanku itu, jadi aku berusaha mencari informasi tersebut. Lalu apa yang aku dapatkan?
Ini dia . . . .

"Telapak tangan berkeringat biasa diidentikkan dengan jantung yang bermasalah, mulai jantung lemah atau masalah jantung lainnya. Anda langsung ketakutan? Dan, telapak tangan Anda semakin berkeringat. Dilansir dari laman FFM, telapak tangan berkeringat umumnya merupakan kondisi sementara yang disebabkan oleh stres atau kecemasan.

Hal ini terjadi karena tidak berfungsinya sistem saraf sebagaimana mestinya dan membuat otak salah mengirim sinyal ke saraf keringat yang terletak di telapak tangan.

Penyebab lain adalah hiperhidrosis primer. Mungkin ini adalah alasan paling tepat yang menyebabkan telapak tangan Anda berkeringat. Pada kondisi ini kelenjar keringat yang terletak di telapak tangan terlalu aktif bekerja, sehingga menghasilkan keringat yang berlebihan. Selain itu, hal yang juga berpengaruh pada kondisi ini adalah faktor genetik. Jadi, bila telapak tangan Anda sering berkeringat tidak berarti bahwa Anda memiliki masalah jantung.

Anda hanya perlu menggunakan medicated powder (bedak) untuk mengurangi  keringat di telapak tangan Anda."

Itulah informasi yang dapat aku  temukan.


2. Lesung pipi itu menambah kemanisan
Mungkin bagi sebagian orang memang seperti itu. Cowok atau cewek yang memiliki lesung pipi terlihat manis, tapi tidak denganku.
Aku penasaran dengan "lesung pipi" itu. Lalu  aku mencari-cari informasi tentang lesung pipi.

Lesung pipit bisa muncul di kedua pipi atau hanya di salah satu pipi saja dan biasanya akan terlihat dengan jelas di wajah seseorang ketika ia sedang tersenyum, berbicara atau tertawa. Beberapa orang memiliki lesung pipi yang dalam dan sangat terlihat, sedangkan yang lainnya hanya terlihat samar-samar.

Fenomena lesung pipit dipengaruhi oleh faktor genetik dan diperlukan gen lesung pipit yang dominan. Jika salah satu orangtua atau kakek neneknya memiliki lesung pipit, maka ada kemungkinan lesung pipit ini akan diturunkan ke generasi berikutnya. Anak-anak yang terlahir dari salah satu orangtua dengan lesung pipit akan memiliki kesempatan sebesar 25-50 persen.

Seperti dikutip dari NCTimes, Rabu (29/12/2010) Dr Joel Pessa, seorang ahli bedah plastik di University of Texas Health Science Center dalam makalah yang diterbitkan jurnal Clinical Anatomy tahun 1998, menuturkan lesung pipit disebabkan oleh kecacatan dari otot zygomaticus utama.
Lesung pipit yang muncul pada wajah seseorang diakibatkan oleh otot zygomaticus utama yang lebih pendek daripada ukuran sebenarnya atau otot ini terbelah menjadi dua, kondisi ini menyebabkan adanya lekukan pada pipi.

Ketika seseorang tersenyum atau berbicara, maka ada daya tarik dari kulit yang membuat lesung pipit muncul akibat efek penarikan kulit tersebut. Hal ini diketahui setelah peneliti membedah anatomi wajah 50 mayat yang memiliki lesung pipit. Lesung pipit umumnya tidak terlihat ketika seseorang sedang diam, karena otot pipi tersebut tidak mengalami penarikan atau dalam posisi diam.

Beberapa orang ada yang hanya memiliki lesung pipit ketika masih anak-anak atau muda. Hal ini karena seiring waktu otot wajah ini secara perlahan akan meregang yang membuat lesung pipit memudar atau hilang.

Fakta Menarik Seputar Lesung Pipi
  • Lesung pipi merupakan sebuah otot yang pendek dan merupakan cacat dari lahir yang terjadi karena otot zygomaticus utama. Jadi, ketika seseorang pemilik lesung tersenyum maka otot singkat di wajah menarik ke atas sehingga membentuk lesung pipi tersebut. Dan lesung pipi akan menghilang ketika kulit pada wajah tidak bereaksi atau diam.
  • Lesung pipi menghilang, lesung pipi bisa menghilang seiring dengan waktu, sering ditemukan pada bayi yang lahir dengan lesung dan kemudian hilang dengan bertambahnya usia mereka. Hal ini terjadi karena saat tumbuh dewasa, beberapa otot juga memanjang sehingga kulit wajah yang tadinya berlesung menjadi normal.
  • Genetik Trait. Lesung dianggap suatu sifat dominan (di mana hanya dibutuhkan satu gen untuk mewarisi mereka). Jika salah satu orang tua Anda memiliki lesung, maka anak-anaknya memiliki kesempatan 25-50% untuk juga memiliki lesung seperti orang tua mereka . Jika kedua orang tua Anda memiliki lesung pipi, peluang Anda untuk memiliki lesung meningkat menjadi 50-100%, tergantung pada bagaimana orang tua Anda mewarisi sifat tersebut.
  • Lesung pipi buatan. Percaya atau tidak, ada banyak permintaan untuk membuat lesung melalui pembedahan. Orang berani membayar mahal hanya karena ingin meiliki lesung yang menawan. Dokter bedah biasanya menciptakan lesung pipi melalui sayatan kecil di dalam pipi Anda, dan lesung ini dibuat untuk menjadi permanen.
  • Cantik dan menawan. Banyak orang mengatakan bahwa pemilik lesung pipi baik itu pria atau wanita terlihat sangat manis jika mereka tersenyum. Pemilik lesung juga sering disebut memiliki “baby face”. Dalam budaya Barat, lesung dianggap fitur menarik pada pria dan wanita.
  • Good Luck dan Kesejahteraan. Dalam beberapa budaya, lesung dijadikan sebagai tanda keberuntungan dan kemakmuran. Cleopatra dikatakan juga memiliki lesung. Dalam kebudayaan India, lesung yang hadir pada seorang wanita ketika mereka tersenyum, merupakan indikasi bahwa wanita itu sangat disukai oleh suaminya. Baik Asia dan Yunani, lesung juga merupakan daya tarik.
Nah, itulah informasi yang dapat aku sampaikan. Semoga berguna~

Senin, 28 Oktober 2013

Retret Day 1 - “Let’s go! Saat Keberadaan Bantal bahkan sangat Berarti”

By Indah_chan di 04.25 0 komentar

 Suhu di kamar berangsur-angsur mulai tinggi, berbeda dengan malam kemarin yang bersuhu rendah. Penerangan di kamar terasa sangat terang. Aku mulai membuka selimutku, mencoba mengumpulkan nyawa untuk membuka mata dan mulai bangkit berdiri. Menggaruk pipi yang tidak gatal dan berjalan untuk mengambil handuk yang tergantung di jemuran depan, kulihat jam yang menunjukkan pukul 9 dan akupun mulai menuju kamar mandi.
Mengguyurkan air yang dingin itu ke tubuh, ya memakai air dingin karena tidak memiliki air hangat. Memberi shampoo dan memijat kepalaku dengan pelan, memberi sabun dan menggosok gigi. Selesai mandi, melilitkan handuk di tubuhku dan kembali ke kamar untuk berpakaian.
Tak berapa lama, akupun mulai selesai berpakaian waktu itu masih berpakaian rumah dan siap menyantap makan pagiku, tepung panjang yang di rebus dengan bumbu yang renyah. Aku makan dengan lahapnya bersama orangtua dan adikku, Bagus. Sebenarnya aku mempunyai seorang adik laki-laki, tetapi dia sudah berangkat sekolah pagi sekali. Entah secepat apa aku makan, tetapi aku lebih cepat daripada Bagus. Itu sudah pasti, porsi makanku lebih sedikit dibandingkan Bagus.
Selesai makan, aku mulai memeriksa kembali barang bawaan yang akan dibawa ke Bandungan bersamaku nanti. Perlengkapan pakaian dan mandi? Selesai. Cemilan dan obat-obat yang perlu? Lengkap. Sandal dan plastik? Ada. Oke, aku siap berangkat menuju Bandungan untuk retret.
Kembali ke kamarku untuk berganti pakaian yang layak dan sepantasnya. Selesai berganti pakaian, aku menunggu Bagus. Ayah dan Ibu juga aku tunggu karena mereka juga akan ikut mengantarku ke sekolah, lagipula Vere, adikku yang paling kecil pulang sekolah pukul 11.30, sedangkan aku harus sudah ada di sekolah pukul 11.
Semua telah selesai, aku, Bagus dan Ibu telah duduk di tempat duduk masing-masing, sedangkan Ayah yang mengendarai mobilnya. Ku lihat jam tanganku, menunjukkan pukul  10.15. Ayah mempercepat kecepatan mobilnya. Alhasil, sampai sekolah pukul 10.30. Wah, hanya 15 menit ternyata. Cepat juga.
Sesampainya di sekolah, terlihat dari belakang masih sepi. Teramat sangat sepi. Aku mencoba masuk ke dalam sekolah untuk melihat keadaan di sekitar. Mulai berjalan dan memasuki gerbang belakang sekolah. Ternyata tak sepi jika sudah di dalam. Aku melihat guru-guru yang sedang mempersiapkan kertas untuk ditempelkan di depan-belakang bus itu yang bertuliskan “bus 1” sampai “bus 5”. Para guru pendamping menempelkan kertas yang bertuliskan nomor bus itu, sedangkan supir dari masing-masing  bus itu diajak makan dan minum terlebih dahulu.
Aku keluar dari sekolah melalui gerbang belakang. Aku mulai duduk. Ayah mengeluarkan koperku dan koper Bagus dari bagasi. Menunggu para guru pendamping yang telah selesai menempelkan kertas yang bertuliskan nomor dari bus itu, ku lihat bus 2 berada di posisi ke 2 setelah bus 1. Aku mulai berjalan menuju bus 2, mendorong koperku dan menenteng plastik yang berisi air mineral dan beberapa potongan roti bakar untuk cemilan di bus nanti. Supir bus 2 mungkin telah selesai makan dan minum, lalu ia mulai menyapa dan mengangkat koperku ke bagasi di sebelah kiri dari bus itu. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih dan mengambil jaket dan masih menenteng plastik itu. Menaiki bus itu dan memilih tempat duduk yang berada di tengah. Aku meninggalkan jaket dan plastikku di tempat duduk yang sudah aku “tandai”. Setelah meninggalkan barang-barang, aku turun dari bus, aku melihat Chika yang baru turun dari mobilnya. Cepat-cepat aku  berlari ke arahnya dan memberitahu tentang posisi bus 2. Chika yang kerap kali aku panggil dengan sebutan “emak” itu membawa galon air mineral 6 liter. Oke, aku mengantarkannya menuju bus 2, kembali lagi supir bus itu membantu emak menaruh kopernya di bagasi bagian samping. Dan memberitahu tempat duduk yang telah kutandai itu. Emak tidak menaruh galonnya ke bagasi. Ia menentengnya dan menempatkan galon itu di tempat duduk yang telah kami sepakati, hahaha. Maksudnya agar tidak diambil oleh orang lain. Setelah itu, kami turun dari bus dan duduk di tempat duduk yang terbuat dari semen yang ada di dekat gerbang belakang sekolah, sambil menunggu teman-teman lain yang belum datang. Ayah dan Ibuku pamit ingin menjemput Vere yang ada di SMP yang sebentar lagi akan pulang. Sebelum pergi ke SMP, aku dan Bagus salaman sama Ayah dan Ibu. Melambaikan tangan dan pesan Ibu adalah hati-hati dan jangan lupa berdoa. Lalu mobil yang Ayah kendarai melaju cepat untuk menjemput Vere.
Aku kembali duduk bersama Chika ditemani Mamanya. Kami bersanda-gurau. Tiba-tiba Mila datang, pecahlah kehebohan kita. Aku melihat jam tangan sudah menunjukkan pukul 11.30, aku segera masuk ke bus. Bagus tidak 1 bus denganku, dia berada di bus 1. Lalu, aku melihat barang-barangku hilang di bangku tengah yang telah ku tandai sebelumnya. Tapi bangku yang sudah aku tandai itu ada tas orang lain, lalu dimana tas ku, pikirku. Baru saja aku masuk ke dalam bus, sudah ada orang yang membuatku marah, dia tidak mengetahui kalau tadi ada tas di sana ya? Dea dan Octa, teman sekelasku bercerita kalau tadi ada seorang perempuan yang memindahkannya. Alhasil, nanti perempuan itu pindah ke bangku belakang. Jaket dan plastikku di taruhnya di bangku depan. Aku mengambilnya. Hal yang sama dilakukan emak, ia mengambil galonnya. Entahlah, tapi kalau perempuan itu menginginkan bangku itu, tak harus merebutnya secara diam-diam kan? Belum sampai di tempat retret sudah diuji, pelajaran yang dapat diambil adalah sabar dalam menghadapi masalah.
Tak lama kemudian, bus itupun jalan. Semoga bisa sampai ke tempat tujuan dengan selamat, pikirku. Bus itu berjalan pelan lalu agak cepat. Di dalam bus diputar lagu-lagu lokal. Aku mengenali lagu-lagi itu, tapi emak merasa asing dengan lagu-lagu itu. Aku yang memperkenalkan lagu-lagu itu kepada emak. Ya, setelah itu aku dan emak bercerita mengenai anime dan hal-hal lucu lainnya. Perjalanan terasa sangat cepat, tiba-tiba saja sudah di Bandungan.
Bus yang seharusnya ke KSED malah kesasar, melewati Griya Asisi, padahal KSED harusnya sebelum Griya Asisi, jadi bus itu harus balik lagi. Lanjut ke bus 2, masuk ke gang Griya Asisi, naiknya menanjak lalu masuk rumah tempat retret melewati  pintu gerbang. Bus itu berhenti, semua turun. Setelah turun dari bus itu, semua meregangkan badan masing-masing. Tak terasa sudah sampai, semua pasti lelah duduk di bus terus. Akupun begitu. Supir bus membuka garasi dan menurunkan koper anak-anak satu per satu. Aku mulai mengambil koperku sambil membawa jaket dan plastikku yang ku bawa daritadi.
Koper telah ku ambil, aku mencari tempat untuk menaruh koperku sementara. Melihat ke kanan dan ke kiri, menunggu bus lain datang ke Griya Asisi. Tak lama, bus 1 dan 3 datang. Teman-teman mulai turun. Bus 3 telat karena dia menampung anak-anak yang di KSED, jadi sebagian turun di KSED, sebagian lagi turun di Griya Asisi. Anak-anak retret yang di Griya Asisi sudah terkumpul dan kami dibagikan makanan. Sampai di Griya Asisi kira-kira pukul 13.05. Dan makan siangpun telah tiba. Aku dan emak mencari tempat duduk agar makannya nyaman. Makananpun dibagikan, aku tak sabar menunggu kotak itu. Setelah mendapat makan siang, memegang kotak itu dan perlahan ku buka kotak itu. Ada nasi, sayur, ayam dan bakso. Tak sabar aku ingin menyantapnya. Sebelum itu, aku berdoa. Setelah itu, mengamil sendok dan makanannya serta menyuapkannya ke dalam mulutku. Apapun makanannya, jika sudah lapar dan mengucap syukur pasti nikmat. Ku nikmati setiap lahapannya.
Tak terasa makanan yang ada di kotak itu telah habis. Ku membuang kotak yang telah kosong itu di tempat sampah. Setelah itu duduk kembali sambil menunggu teman-teman yang belum selesai makan. Menunggu dengan bercerita dengan teman-teman. Wah, teman yang belum pernah aku ajak untuk berbicang bisa aku ajak untuk berbincang. Ternyata seru bisa bergaul dengan semua orang.
Waktu berjalan terasa sangat cepat, aku melihat jam tanganku. Ternyata telah menunjukkan pukul 13.25, guru pembimbing yaitu Bu Agustin dan Pak Rudi memberi informasi terlebih dahulu mengenai kamar. Teman sekamar boleh berganti asal memberi tahukannya kepada guru pendamping. Aku tidak ingin ganti teman sekamar karena aku telah sekamar dengan emak. Ya, ini sebuah kebetulan atau keberuntungan? Sebelum masuk ke kamar, handphone harus dititipkan terlebih dahulu kepada Bu Agustin, aku tak membawa handphone dikarenakan handphone ku rusak, tetapi emak membawa handphone, lalu ia menitipkannya kepada Bu Agustin dan diberi nama di secarik kertas kecil dan menempelkannya dengan selotip bening. Tak ada handphone, tak bisa berkomunikasi dan pastinya aku akan merindukan kakak. Lalu emak menaruh handphonenya di sebuah kotak yang nantinya akan dititipkan selama 4 hari di kamar Bu Agustin, mungkin.
Emak telah menitipkan handphonenya itu kepada Bu Agustin dan pencarian kamarpun dimulai! Hahaha. Mulai mencari-cari kamar yang telah diatur oleh guru pembimbing. Rumah tempat retret luas juga. Kamar 214, agak susah di cari, ternyata terselip. Letak kamarnya di tengah lantai 2 dan 3. Bingungkan? Tapi memang itu adanya. Tetanggaku kamar 216 ditempati oleh Naris alias Nduty dan Laras yang biasa aku panggil “abang”. Mereka berada di sebelah kiri kamarku, sedangkan kamar sebelah kananku kosong. Mungkin belum ada yang menempatinya. Ku lihat Mila belum mendapat teman sekamar, dan akhirnya aku menemukan Dea di ruang makan, dia juga belum mendapatkan teman katanya. Nah, kebetulan sekali. Akhirnya ia menuju kamar di samping kanan kamarku. Aku mulai bingung, saat aku memuka kamar itu, ternyata sudah di kunci, padahal tadi belum ada orang. Aku mencoba mengetuk pintu itu. Beberapa kali aku ketuk pintu dengan pelan, belum terdengar jawaban. Aku mencoba mengetuk pintu lebih keras dari yang tadi, akhirnya ada sahutan dari dalam.
“Ya, tunggu sebentar” ku dengar suara yang agak berat dari dalam kamar. Aku mulai berpikir, ini perempuan tangguh pasti. Hahaha.
Ia mulai membuka kunci pintu itu dan tiba-tiba ku melihat sesosok pria yang berkulit gelap muncul di depan pintu kamar itu.
“Loh?” aku mulai kaget.
“Ada apa?” jawabnya.
“Ini kan kamar cewek, kenapa kamu ada di sini? Memang kamu tidak tau kalau ini gang kamar cewek?”
“Tau sih, ya.. Memang itu tujuannya.”
“Astaga, ayo pindah sana!”
“Hah? Pindah lagi? Aku dan Satria baru aja pindah kamar!”
“Lah, siapa suruh netap di kamar cewek?”
Emak, Mila, dan Dea tertawa karena kedua pria itu harus pindah kamar lagi. Mereka sudah pindah kamar yang kedua kalinya. Ya, aku agak bingung, sekaligus agak aneh jika harus bersebelahan dengan kamar yang isinya adalah pria. Walaupun bisa dekat dengan pria, itupun hanya adik dan Ayahku. Dan alhasil, mereka pindah kamar, jadi di lantai 3. Ahahaha. Ya, tentu saja gang jamar para lelaki.
Masalah sudah selesai, aku – emak dan Mila - Dea kembali ke kamar untuk menyusun barang-barang bawaan. Selesai aku dan emak menyusun barang-barang bawaan, kami bersiap-siap untuk mandi. Ku lihat jam tangan menunjukkan pukul 14.30.
Aku mulai mempersiapkan peralatan mandi dan pakaianku lalu perlahan menuju kamar mandi. Untuk apa mandi lebih awal? Supaya lebih bersih dan lebih lama mandinya. Selesai mandi kira-kira pukul 15.00. Mulai sisiran lalu aku melihat emak sedang asik menggambar-gambar dan aku memperhatikan. Aku mengambil roti bakar yang berada di plastik itu dan menawarkannya kepada emak yang sedang asik menggambar. Kita makan roti itu bersama-sama. Ya, habis pastinya.


Roti bakar telah habis, waktu menunjukkan pukul 16.00 sore. Sekarang waktunya snack sore. Aku dan emak mulai turun ke bawah menuju meja makan. Entahlah, tapi aku belum kenyang saat makan roti bakar tadi. Aku tidak serakah, mengambil snack itu haya 1 saja, kasihan yang lain kalau tidak kebagian nantinya. Lalu menuju meja makan dengan perlahan. Yang duduk di sampingku pastilah emak. Menikmati snack itu. Tapi entah mengapa, rasanya snack itu cepat sekali habisnya. Tak apa, hanya snack, pikirku. Aku melihat suasana masih ada pengelompokan diantara teman-teman yang lainnya. Maklumlah, baru hari pertama, pasti yang lain belum mau berbaur.
Snacknya telah habis, pukul 16.30, anak-anak dikumpulkan di aula. Ibu Agustin mengadakan briefing dan persiapan untuk misa nanti dengan memilih Adwin sebagai ketua, Ribka sebagai seksi ibadat, dan Arindra sebagai bellboy. Ribka sebagai seksi ibadah yang memilih siapa saja yang bertugas untuk doa makan, pemazmur, pembacaan alkitab, dan lain sebagainya. Arindra sebagai bellboy bertugas untuk membangunkan teman-teman yang belum bangun nantinya dan memberitahu jika acara akan segera mulai dengan lonceng yang telah disediakan dari tempat retret itu. Lalu untuk jadwal acara, guru pembimbing tidak mengetahuinya karena yang menyusun acaranya adalah Romo. Saat itu Romo belum juga datang, jadi setelah briefing itu dari pukul 17.00 sampai 17.45 jadwalnya adalah acara bebas.
Tapi saat mau kembali ke kamar, ada seorang pria yang berwibawa bertanya kepada aku, emak, Nduty dan Laras.
“Maaf, guru pembimbingnya siapa ya?”
“Itu, yang di depan itu.” Kata Laras dan emak bersamaan.
“Yang di depan itu?” Ia mengulang kalimat yang telah dikatakan oleh Laras dan emak.
“Iya, yang di depan itu.”
“Wah, saya kira mereka berdua adalah pembicara.”
Lepaslah sudah tertawa kami. Wah, pria ini melontarkan lelucon yang lucu kepada kami. Lalu ia berpamitan dan menuju Bu Agustin dan Pak Rudi.
“Sepertinya dia Romo deh.”  Laras mulai berbicara, memecah keheningan.
“Iya, kayaknya. Soalnya yo aku pernah lihat saat dia di Gereja mana gitu.” Lanjut emak.
“Tapi di mana ya? Aku lupa nih.”
“Iya, aku juga lupa, La.” Kata emak kepada Laras.
Oke, aku tak mengetahui apa-apa tentang pria itu. Apakah benar dia Romo yang akan mengajar kita, pikirku. Sambil berbincang, sambil berjalan menuju kamar. Laras dan Nduty menuju kamarku juga. Biasa, pasti mau nyemil.
“Gila, kang! Ini mau retret atau jualan? Kok cemilannya banyak banget?” tanya Laras kepadaku.
“Iya, kita berdua ini tukang makan.” Emak melanjutkannya.
Ya, intinya di kamar, kita nyemil permen yang “kenyal” itu.
Waktu menujukkan pukul 17.45 dan tiba saatnya untuk misa pembukaan. Ya, ternyata benar bahwa pria tadi adalah Romo pedamping kita yang ada di Griya Asisi nanti. Misa pembukaan di mulai, dengan inti dari kotbah Romo itu adalah jika kita menjadi dewasa kita harus memiliki 2 sifat. Dua sifat itu adalah semangat dan siap sedia. Semangat untuk menyemangati diri sendiri dan siap sedia dalam menghadapi pilihan hidup. Kita tahu bahwa hidup itu 50% senang dan 50% lagi sengsara. Jadi, kita diajarkan untuk memompa 50% senang menjadi lebih dari 50%, sedangkan 50% sengsara itu diturunkan, sehingga hidup bisa lebih bahagia.
Selesai misa, kami akan melanjutkannya dengan makan malam pada pukul 19.00 sampai 20.00. Tak terasa makan malam berlangsung dengan cepat dan masuk pada sesi 1.
Pada sesi 1 ini, kita diajak berkumpul di ruang pertemuan. Romo mengajak untuk berhitung dari 1 sampai 7. Kami berhitung dan aku mendapatkan nomor 4. Kami semua totalnya 70. Jadi akan terbentuk 7 kelompok dengan masing-masing anggota kelompok berjumlah 10 orang. Aku mendapat kelompok bersama dengan Ellen, Laras, Ningrum, Tika, Ribka, Sandra, Aldo, Ivan Ricardo atau biasa dipanggil Ong dan terakhir Joshua atau biasa dipanggil JK. Sepuluh orang itu sudah termasuk aku di dalamnya. Lalu, perintah Romo adalah mengambil bantal dari kamar masing-masing dan menjelaskan permainan bantal tersebut. Aku mengira kita akan perang bantal, tapi bukan itu maksud Romo. Romo bilang coba susun bantal itu setinggi mungkin tetapi harus menyentuh lantai. Kelompok kami mulai menyusun rencana. Dari kelompokku itu, aku banyak tahu tentang nama mereka, ya hanya “sekedar tahu” bukan “kenal”. Mungkin dari sini, kita akan mengenal satu sama lain. Mencoba berunding dalam kelompok. Banyak rencana yang kita coba, tetapi tetap saja gagal, bantalnya selalu jatuh. Kami tak akan menyerah. Tetap berusaha supaya bantal itu bisa tinggi. Akhirnya kami menemukan ide brilian. Rencananya adalah . . .

Gambar

Alhasil kita berhasil menyusun bantal itu. Entahlah, mungkin kelompok kami tidak tinggi menyusun bantalnya, tapi dari sini kami belajar untuk saling bekerjasama antara 1 dengan yang lainnya walau kita tak terlalu kenal dan mencoba percaya pada orang lain. Setelah permainan susun bantal itu berakhir, Romo memberikan kertas yang isinya tentang persahabatan. Menurut kami persahabatan itu butuh pengorbanan berapa dan apa untungnya dengan skor 1-7. Ya, isinya seperti angket begitu. Tiga lembar dan lebih dari 100 nomor, semuanya menggunakan bahasa Inggris yang kosa katanya asing bagiku. Terakhir, angket itu tidak selesai.
Sesi 1 berakhir, jam menunjukkan pukul 21.30. Waktunya untuk mengucap syukur kepada Tuhan dengan memekakan alat indra kita. Mengucap syukur karena telah diberi anggota tubuh yang lengkap sekaligus doa untuk tidur. Kegiatan tersebut berlangsung sampai pukul 22.00.
Lebih dari pukul 10 malam, kami menuju kamar kami masing-masing. Tidak semua kembali ke kamar, ada yang masih terjaga. Kalau aku dan emak langsung saja ke kamar. Di kamar bukan langsung tidur, malah bercanda terlebih dahulu. Tapi mata ini telah lelah dan badan ini capek sekali. Aku mencoba merelekskan badan dan akhirnya tertidur juga.
Hari pertama akan segera terlewati, selamat tinggal hari pertama....
 
NEXT >>>>>> DAY 2
 

all about.... Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea