Deg.. Deg.. Deg.. Deg..
Detak jantung Kak Hiro yang sangat terdengar.
Ia sangat berusaha melindungiku. Akhir-akhir ini aku sering bingung dengan jalan pikiran Kak Hiro.
"I-chan..."
Hee.. Heei!! Kak Hiro memanggilku!!
Aku ingin sekali menjawab, tetapi mulutku tak bisa terbuka untuk sekarang ini.
"Tetaplah ceria menghadapi hidup ini, karena kakak pasti akan menjagamu"
Aku senang mendengar kata-kata Kak Hiro.
Tak terasa, sudah sampai rumah.
"Kami pulang.."
"Loh?! I-chan kenapa, Hiro?"
"Dia hanya kelelahan, ma"
"Haaah.. Syukurlah, mama kira I-chan kenapa-kenapa"
"Kenapa-kenapa gimana, ma?"
"Kenapa-kenapa ya begitu.."
"Ya, kenapa yang gimana, mama?"
"Ya, begitu Hiro"
"Ya, gimana ma?"
"Ya sudah sana! Baringkan I-chan di kamarnya dan cepat mandi!!"
Dasar Kak Hiro sukanya bercanda.
Ia tetap menggendongku sampai ke kamarku, membaringkan ku di tempat tidur dan kembali ke kamarnya.
Mataku tetap saja tak mau terbuka, padahal aku ingin sekali mengucapkan terima kasih kepada kakak.
Dan sekarang, aku benar-benar capek. Ingin sekali tidur dan tak memikirkan apa-apa.
Aku mencoba tidur.
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
"I-chan!! Jangan pergi!!!"
"Kak Hiro!!"
Kenapa ini? Aku berada di tengah-tengah lingkaran besar dan disekelilingku hanya jurang yang tak berujung, gelap, dingin. Aku sangat gelisah.
Suara Kak Hiro terdengar, tapi dimana?
Aku tak melihat Kak Hiro berada di dekatku.
"I-chan, kenapa sebentar sekali? Aku ingin sekali menggantikanmu!!"
"Kak Hiro, jangan menangis.. I-chan masih sama Kak Hiro kok"
"I-chaaaaaaaaaaaaaaaan!!!"
"Kakak..."
Di tengan jurang tak berujung, ada sesosok pria yang memelukku erat. Siapa? Aku tak mengenalinya.
Cowok SMA yang sepertinya sebaya denganku.
Berambut pirang dengan senyum yang tak mungkin aku lupakan.
Dia yang memberiku semangat, mengubah kegelapan menjadi terang.
Terima kasih.
"Nee~ I-chan.."
"Hah?!"
Terang sekali.
"Udah pagi loh.. Ayo bangun"
Aku mulai membuka mataku.
"Tadi......"
"Huh?"
"Gak apa kak.."
"??"
"Makasih ya kak"
"Untuk?"
"Telah menggendongku"
"Siapa yang menggendongmu? Mimpi tuh"
"Huh?!! Kakak Bohong!!"
"Petzu tuh yang gendong"
Aku menjitak kakak karena berbohong.
Pleetaak!!
"Aw!! Sakit tau!"
"Makanya gak usah bohong, kak!!"
"Iya.. iya.. Sama-sama I-chan"
"Hehe"
"Ya udah, sana mandi!! Bau!! Kemarin juga belum mandi kan?!"
"Udaaah yee!!"
"Kapan?"
"Kemarin pagi, week"
Pleeetaaaak!!
"Aw!! Sakit kakak!!"
"Gantian, ahahaha~"
"Dasar, yaudah! I-chan mandi dulu deh"
Haah~ air yang segar membasahi tubuhku.
Ternyata gak mandi sore hari rasanya gak enak.
Sekarang jadi segar deh~
Selesai mandi, baju-baju mulai menempel pada ku. Ihihihi~
Aku mulai menyisir rambutku, setelah itu aku turun ke bawah menghampiri meja makan.
Makanann aku siap menyantapmu.
"Roti bakar, aku siap menyantapmu"
"Ini bagianku"
"Aaaah!! Kakak!! Kan itu incaranku!!"
"Siapa cepat dia dapat"
"Kakak jahat!! Huaaaaa!!"
*hap*
"Itu buat kamu deh"
"A-a e-a-a? *Kakak kenapa*"
"Ambil aja, kan itu bagianmu"
"a-i-a-o-u *Arigatou*"
"Dasar.."
Pleetaak!
Pagi-pagi udah dijitak, ya.. Itulah kakakku, aneh-aneh saja.
Detak jantung Kak Hiro yang sangat terdengar.
Ia sangat berusaha melindungiku. Akhir-akhir ini aku sering bingung dengan jalan pikiran Kak Hiro.
"I-chan..."
Hee.. Heei!! Kak Hiro memanggilku!!
Aku ingin sekali menjawab, tetapi mulutku tak bisa terbuka untuk sekarang ini.
"Tetaplah ceria menghadapi hidup ini, karena kakak pasti akan menjagamu"
Aku senang mendengar kata-kata Kak Hiro.
Tak terasa, sudah sampai rumah.
"Kami pulang.."
"Loh?! I-chan kenapa, Hiro?"
"Dia hanya kelelahan, ma"
"Haaah.. Syukurlah, mama kira I-chan kenapa-kenapa"
"Kenapa-kenapa gimana, ma?"
"Kenapa-kenapa ya begitu.."
"Ya, kenapa yang gimana, mama?"
"Ya, begitu Hiro"
"Ya, gimana ma?"
"Ya sudah sana! Baringkan I-chan di kamarnya dan cepat mandi!!"
Dasar Kak Hiro sukanya bercanda.
Ia tetap menggendongku sampai ke kamarku, membaringkan ku di tempat tidur dan kembali ke kamarnya.
Mataku tetap saja tak mau terbuka, padahal aku ingin sekali mengucapkan terima kasih kepada kakak.
Dan sekarang, aku benar-benar capek. Ingin sekali tidur dan tak memikirkan apa-apa.
Aku mencoba tidur.
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
"I-chan!! Jangan pergi!!!"
"Kak Hiro!!"
Kenapa ini? Aku berada di tengah-tengah lingkaran besar dan disekelilingku hanya jurang yang tak berujung, gelap, dingin. Aku sangat gelisah.
Suara Kak Hiro terdengar, tapi dimana?
Aku tak melihat Kak Hiro berada di dekatku.
"I-chan, kenapa sebentar sekali? Aku ingin sekali menggantikanmu!!"
"Kak Hiro, jangan menangis.. I-chan masih sama Kak Hiro kok"
"I-chaaaaaaaaaaaaaaaan!!!"
"Kakak..."
Di tengan jurang tak berujung, ada sesosok pria yang memelukku erat. Siapa? Aku tak mengenalinya.
Cowok SMA yang sepertinya sebaya denganku.
Berambut pirang dengan senyum yang tak mungkin aku lupakan.
Dia yang memberiku semangat, mengubah kegelapan menjadi terang.
Terima kasih.
"Nee~ I-chan.."
"Hah?!"
Terang sekali.
"Udah pagi loh.. Ayo bangun"
Aku mulai membuka mataku.
"Tadi......"
"Huh?"
"Gak apa kak.."
"??"
"Makasih ya kak"
"Untuk?"
"Telah menggendongku"
"Siapa yang menggendongmu? Mimpi tuh"
"Huh?!! Kakak Bohong!!"
"Petzu tuh yang gendong"
Aku menjitak kakak karena berbohong.
Pleetaak!!
"Aw!! Sakit tau!"
"Makanya gak usah bohong, kak!!"
"Iya.. iya.. Sama-sama I-chan"
"Hehe"
"Ya udah, sana mandi!! Bau!! Kemarin juga belum mandi kan?!"
"Udaaah yee!!"
"Kapan?"
"Kemarin pagi, week"
Pleeetaaaak!!
"Aw!! Sakit kakak!!"
"Gantian, ahahaha~"
"Dasar, yaudah! I-chan mandi dulu deh"
Haah~ air yang segar membasahi tubuhku.
Ternyata gak mandi sore hari rasanya gak enak.
Sekarang jadi segar deh~
Selesai mandi, baju-baju mulai menempel pada ku. Ihihihi~
Aku mulai menyisir rambutku, setelah itu aku turun ke bawah menghampiri meja makan.
Makanann aku siap menyantapmu.
"Roti bakar, aku siap menyantapmu"
"Ini bagianku"
"Aaaah!! Kakak!! Kan itu incaranku!!"
"Siapa cepat dia dapat"
"Kakak jahat!! Huaaaaa!!"
*hap*
"Itu buat kamu deh"
"A-a e-a-a? *Kakak kenapa*"
"Ambil aja, kan itu bagianmu"
"a-i-a-o-u *Arigatou*"
"Dasar.."
Pleetaak!
Pagi-pagi udah dijitak, ya.. Itulah kakakku, aneh-aneh saja.



















