Suhu yang sangat dingin menusuk sampai ke tulang. Aku tak terbiasa
dengan suhu yang sangat rendah. Kain penghangat yang tadinya tersusun rapi di
tempat tidur, kini tergunakan dengan baik. Suhu di Bandungan memang rendah, aku
harus melipat kaki ku untuk membantu penghangatan yang lebih. Kemarin aku
berpesan kepada emak untuk bangun pukul 4 pagi. Alarm jampun telah disediakan untuk
membantu kita bangun.
Tapi, aku tidak mendengarkan kalau jam itu berbunyi. Aku asik sendiri
untuk tidur, tetapi saat aku terbangun, aku melihat jam menunjukkan pukul
04.15. Lebih baik bangun daripada tidak sama sekali. Hahahaha. Saat aku bangun,
emak bercerita kalau ternyata tadi dia membangunkanku tetapi aku tidak ada
reaksi apa-apa. Berbagai cara sudah ia lakukan misalnya dengan mendekatkan jam
agar bunyi dari alarm jam itu terdengar, lalu mencolek tanganku dan lain
sebagainya sampai pada akhirnya aku terbangun dengan sendirinya.
“Kamu bagaimana sih, Nduty aja yang di kamar sebelah bisa bangun karena
alarmnya terdengar sampai kamarnya, masa kamu ndak isa toh?”
“Hehe, maaf toh, mak.”
“Ya sudah.”
“Terus kita mau ngapain dulu, mak?”
“Mandi dong. Terus kita bangun jam 4 pagi ini mau ngapain?”
“I-iya juga sih.”
Akhirnya kita mulai mempersiapkan peralatan mandi, ember dan pakaian
ganti yang dibalutkan oleh plastik sebagai pelindung agar tidak basah saat
mandi nanti. Berjalan perlahan menuju kamar mandi. Aku telah mengetahui suhu di
Bandungan sangat dingin, tetapi masih saja aku nekat untuk mengguyurkan air bak
di kamar mandi itu. Sangat dingin memang, akhirnya menyerah. Lalu membuka keran
shower air hangat dan diasukkan ke ember dengan ditambah sedikit air yang
sangat dingin itu. Dan jadilah air hangat.
Selesai mandi, aku dan emak kembali ke kamar. Kita bingung ingin melakukan
apa karena terlalu pagi. Teman-teman yang lain belum ada yang bangun. Sedangkan
Nduty kembali tidur, katanya tadi terbangun karena jam alarmnya emak. Akhirnya
kami hanya makan cemilan yang telah kami bawa, lalu kira-kira pukul 04.30 sudah
ada teman yang duduk di ruang makan. Aku dan emak juga ke meja makan. Mereka
tak lama di ruang makan, mereka mulai kembali ke kamar, mungkin tadi hanya
sekedar minum dan memakan cemilan mereka. Lama-kelamaan, teman-teman sudah
bangun. Acara selanjutnya pukul 06.00 adalah misa pagi.
Misa pagi dipimpin oleh Romo dengan inti yang dapat aku ambil adalah
semakin kita dewasa, pasti semakin banyak yang dituntut. Jadi kita harus
menyerahkan semua yang kita miliki untuk melakukan hal yang benar. Misalnya
menggunakan alat-alat indra dengan baik. Mata untuk melihat hal-hal yang benar,
lidah untuk berbicara kebenaran tentang Allah dan lainnya.
Misa akhirnya selesai, pukul 07.00, kami mulai sarapan. Sarapan pertama
di Griya Asisi. Teman-teman sudah amulai dekat antara satu dengan yang lain.
Dengan sarapan, Romo memberi kami tugas untuk memikirkan simbol dari diri kami
masing-masing. Simbol itu harus benda mati. Aku berusaha keras, memikirkan simbol
benda mati apa yang sesuai denganku. Sampai akhirnya aku berpikir tentang
imajinasi, gambar, lukisan dan kanvas. Awalnya aku hanya memikirkan hobiku
yaitu menggambar, dari menggambar, aku memiliki apa saja. Aku mulai berpikir
dan terus berpikir. Akhirnya aku menemukan simbol dari diriku sendiri. Simbol
benda mati yang mencerminkan diriku adalah pensil warna. Mengapa bisa pensil
warna? Pensil warna itu berwarna-warni, bisa mewarnai kehidupan seseorang
dengan warna-warna tertentu. Tetapi pensil warna sebenarnya rapuh jika tidak
ada pelindung kayunya. Sama seperti aku yang sebenarnya kuat di luar, tapi
rapuh di dalam. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui kalau aku itu
orangnya seperti itu. Setelah memikirkan simbol benda mati tadi, aku harus
menuliskannya di kertas yang telah diberikan Romo. Tak terasa waktu sarapanpun
telah usai, pukul 08.00 kami kembali ke aula untuk memulai sesi 2, bercerita
tentang simbol yang telah kami pikirkan. Sharing kepada teman-teman kelompok
yang telah ditentukan. Ada yang memilih gelas, air, kursi, jaket, sepatu,
bantal, lilin, partitur piano, dan baju. Mereka menjelaskan mengapa mereka bisa
memilih simbol itu dan apa kelebihan maupun kekurangannya. Setelah setiap
anggota menceritakan simbol mereka, Romo menyuruh kami untuk kembali ke tempat
duduk masing-masing. Romo akan menjelaskan tentang Enneagram.
Enneagram berasal dari 2 kata, yaitu Ennea yang berarti sembilan dan
graph berarti tulisan. Jadi, Enneagram berarti 9 pola pribadi manusia.
Enneagram sendiri merupakan tradisi guru SUFI ( Islam ). Pada tahun 1870
dikembangkan lagi oleh Ivanowich Gurdjieff yang belajar secara lisan. Kemudian
tahun 1920, Enneagram diperkenalkan di Eropa. Tujuan Enneagram sendiri adalah
untuk menemukan diri sendiri dan membantu memahami orang lain. Enneagram
menunjukkan anugerah dan sisi gelap untuk mencapai kebebasan, perubahan,
pertobatan. Enneagram juga penunjuk bagian gelap dan seharusnya jika kita telah
mengenali, kita harus berani membuka topeng. Untuk itu diperlukan :
self-observation ( refleksi dan mawas diri ), self-remembering ( mengingat ),
dan self-understanding ( memahami ). Lalu ada 9 binatang yang menjadi pusat
Enneagram. Tiga diantaranya telah dijelaskan oleh Romo. Ada semut, kucing dan
elang.
Romo telah menjelaskan sedikit tetang Enneagram, tetapi waktu sesi 2
hanya sampai pada pukul 10.15, lewat
dari jam itu, waktunya snack pagi. Seperti biasa, hubungan pertemanan kami
sudah mulai dekat. Mulai mengambil snack dan duduk di tempat yag telah
disediakan.
Entah mengapa waktu makan terasa sangat cepat sekali hingga kami
kembali melanjutkan sesi yang ke 3. Dalam sesi ke 3 ini, kembali melanjutkan
tentang Enneagram. Mengenali lebih jauh sifat-sifat yang mendasari orang yang
memilih kuda, burung hantu, kelinci, kera, harimau, dan terakhir kerbau. Dari
semua yang telah Romo jelaskan, ternyata aku lebih condong ke sifat Elang.
Elang merupakan sang motivator, inspirator, ambisius, percaya diri,.
Sifatnya ekstrovert ( terbuka ). Ciri-ciri yang dimiliki elang adalah sangat
prihatin tentang keberhasilan; pribadi ambisius menjadi pemenang nomor 1;
mencari sukses dan pujian; penuh percaya diri; pribadi yang menarik, anggun,
ceria; luwes dan dikagumi; organisator yang baik, penuh perhitungan, efisien;
kurang peka akan perasaan orang lain, karena sibuk dengan tugas dan hasil;
pandai menyembunyikan perasaannya karena ingin tampak baik/ hebat; dapat
memandang rendah/ mengabaikan orang lain; pandai menangkap harapan orang lain;
pandai menyesuaikan diri; pandai mempromosikan diri, tukang “jual jamu”; karir
menanjak, punya kharisma, banyak bakat; suka pamer, angkuh; prihatin akan
penilaian orang terhadapnya; sukar ambil waktu untuk rileks; membuat rencana
ingin tujuan jelas. Masa kecil dari Elang ini dibiasakan mempunyai harga diri
yag tinggi, dan selalu mendapat perhatian. Yang dapat dibanggakan dari elang
adalah “I’m Successful!”. Tokoh yang sifatnya sama adalah Yusuf (PL), John Paul
II, Antoni de Mello. Cara bicara dari elang itu penuh semangat, membual,
meyakinkan, mengesankan. Bantuan : jangan memberi kesan lebih bodoh, lamban;
jangan membual, menipu, memanfaatkan orang lain, jangan manipulasi; jangan
bersikap seperti yang diharapkan orang lain; dukung dan teguhkanlah orang lain;
humor yang tinggi; pakai bakat demi kebaikan kelompok; jangan membandingkan.
Setelah mengetahui Enneagram dari diri kita, Romo memberikan tugas kelompok.
Tugasnya adalah mempersatukan simbol-simol yang diceritakan oleh setiap anggota
kelompok dan disusun sebagai alat peraga lalu dipersentasikan.
Sesi ke 3 telah selesai, pukul 12.30 sampai pukul 13.30 waktunya makan
siang. Entahlah, tapi perut ini kenyang sekali rasanya. Di tempat retret
makannya banyak sekali, ini namanya menambah gizi. Hahaha. Setelah makan siang,
acara bebas. Tetapi acara bebas, tidak bisa bebas. Aku dan kelompokku harus
berdiskusi tentang alat peraga yang akan dipersentasikan dengan kumpulan simbol
benda mati dari teman-teman sekelompok. Berkumpul, membahas bersama. Akhirnya
kita menamukan suatu bentuk. Dan siap dipersentasikan nantinya. Waktu masih
tersisa banyak. Aku menemui emak. Sebelum bertemu dengan emak, Dhita mengajakku
untuk jalan-jalan. Aku mengiyakan ajakannya dan aku mengajak emak yang ternyata
berada di kamar sedang berusaha untuk tidur siang, saat ku ajak jalan-jala,. emak
juga mau. Tap setelah jalan-jalan, alhasil kita hanya jalan-jalan di gang Griya
Asisi untuk mencari dinginnya udara di Bandungan, lalu setelah itu balik lagi
ke Griya Asisi, melihat taman belakang yang dimiliki Griya Asisi. Setelah agak
lelah, aku dan emak mulai masuk kamar, mencoba untuk tidur tetapi tidak bisa
karena Mila tiba-tiba datang. Rencananya aku mandi pukul 15.30, sedangkan Mila telah
mandi. Mila ingin kembali ke kamar, tetapi tdak ada temannya, kebetulan waktu
itu Dea sedang tidak berada di kamar, ia sedang jalan-jalan ke pasar. Jadi Mila
bermain ke kamarku. Dan aku serta emak ingin mandi. Kata emak, dia membaca-baca
buku yang emak bawa, sedangkan aku dan emak mandi.
Perlengkapan mandi dan pakaian telah di bawa semua. Aku kira sudah
lengkap, oke, berangkat untuk mandi. Aku baru saja ingin sabunan, emak telah
menggedor pintuku. Aku berteriak dari dalam kamar mandi dan bertanya mengapa
emak menggedor pintuku. Ternyata aku melupakan sesuatu hal yang penting. Handuk
milikku, lupa aku bawa. Untung emak membawakannya untukku. Aku mengucapkan
terima kasih kepada emak. Setelah itu, aku cepat-cepat untuk mandi.
Selesai mandi, tak terasa sudah snack sore. Snack sore pukul 16.30 dan
selesai snack, dilanjutkan sesi ke 4. Sesi ke 4 ini akan ada persentasi dari
simbol benda mati yang disusun sedemikian rupa. Kelompok kami sudah berusaha
keras agar menjadi alat peraga yang cukup menarik.
Semua kelompok mempersentasikan dengan menarik. Dan tiba gilirannya
kelompokku. Kelompok 4 mempertunjukan yang menyerupai manusia yang sedang
membuat partitur piano dengan pensil warna ditemani secangkir air bening dan
lilin di sampingnya. Maksud dari kelompok 4 membuat itu karena semuanya saling
keterkaitan. Jadi, simbol itu bisa saling melengkapi antara satu dengan yang
lainnya. Seseorang akan lebih baik bekerja sama antara 1 dengan yang lainnya.
Itulah maksud dari peragaan kelompokku. Setelah semua persentasi selesai, Romo
melanjutkannya dengan mempersentasikan tentang
7 langkah adaptasi dan persiapan
menghadapi masa depan. Apa saja langkah-langkanya? Yang wajib kita miliki
adalah keyakinan. Yakin akan : orangtua adalah guru dan mentor terutama;
belajar merupakan proses seumur hidup; belajar merupakan proses perluasan
hidup; fokus pada kemampuan berkomunikasi; berpikir global, bertindaklah lokal;
dengan bekerja keras, kamu akan belajar dan berkembang di banyak area; jadilah
pembelajar. Itulah persentasi yang disampaikan oleh Romo di aula kepada kami di
sesi ke 4,
Sesi ke 4 selesai pada pukul 18.30 yang akan dilanjutkan dengan makan
malam sampai pada pukul 19.30. Selesai makan malam, akan melanjutkan sesi ke 5.
Sesi ke 5 ini akan dilaksanakan di halaman depan. Sebelum ke halaman depan, aku
mengabil jaketku. Hal yang sama juga dilakukan oleh teman-teman agar dirinya
tetap hangat.
Kami keluar ke halaman depan untuk melanjutkan sesi, di sesi ini dibagi
menjadi 2 kelompok besar. Dengan cara menghitung lalu Romo nya membagi nomor sekian sampai sekian ke kelompok A dan
sekian sampai sekian ke kelompok B. Kelompokku sangat ramai sekali, tetapi
seru. Di sini kami memulai permainan, Romo menyuruh kelompok A dan kelompok B
untuk membuat lingkaran. Kami akan melakukan 3 permainan. Permainan 1 disuruh
untuk membuat lingkaran , lalu ada 1 teman yang tangannya dipegang oleh Romo
dan diajak berputar-putar sehingga tidak membentuk lingkaran lagi. Setelah
diacak seperti itu, Romo menyuruh kami untyk mengembalikan ke bentuk semula. Di
permainan 1, kami tidak dapat menang karena sulit sekali. Yang memenangkan
permainan ini adalah kelompok B, sedangkan aku masuk kelompok A. Dilanjutkan ke
permainan ke 2, setiap kelompok disuruh merapat ke tengah, Romo menyuruh kami
untuk memegang tangan kiri bertemu dengan tangan kanan teman. Lalu dari sana,
kita harus membentuk lingkaran. Di permainan ini kita berhasil membuat
lingkaran, seharusnya hanya 1 lingkaran, tetapi kami terbagi menjadi 2
lingkaran, di permainan ini kami kalah lagi. Permainan ke 3 dimulai, kami di
suruh merapat dan membentuk lingkaran. Di sini kita disuru duduk di paha teman,
jadi saling menopang dan disuruh untuk berbaring di badan teman itu. Awalnya
sangat susah, kelompokku sampai terjatuh. Tapi pada akhirnya, kami menang. Kami
bisa menyelesaikan permainan ini dengan sangat mulus. Ternyata menopang teman
tidaklah susah. Kami mulai bergembra. Ternyata kami bisa bekerjasama. Setelah
ketiga permainan telah selesai, Romo menyuruh kami membuat lingkaran besar dan
disuruh duduk bersilang. Romo akan memberikan 8 gerakan untuk menyanyikan lagu
“KasihNya seperi sungai” yang gerakannya makin lama makin cepat.
Lalu dari sini yang dapat kita ambil adalah bekerjasama untuk mencapai
tujuan kita.
Setelah kegiatan itu, tak lupa Romo berdoa malam
sebelum tidur yang akan dipimpin bergantian oleh teman-teman yang telah
ditunjuk sebelumnya. Setelah selesai, kami kembali ke rumah retret. Sedangkan
aku langsung kembali ke kamar untuk tidur. Sepertinya aku tidur dengan lelap
sekali hari ini. Badanku lelah. Selamat tinggal hari kedua.